Koneksi Antar Materi Modul 3.1 Pengambilan Keputusan Oleh Seorang Pemimpin Pembelajaran Sesuai Dengan Nilai-Nilai Kebajikan


         Tujuan Pendidikan adalah proses untuk menuju kepada perbaikan dari kondisi sebelumnya. Pendidikan itu mencakup pendidikan yang mengarah kepada kognisi dan juga pendidikan juga mengarah kepada peningkatann kemampuan keterampilan yang berhubungan dengan peningkatan kemampuan jasmani dan juga pendidikan yang mengarah kepada keduanya. Pendidikan adalah sebuah usaha sadar dan disengaja. Ki Hajar Dewantara dalam Falsafah Pendidikan  dalam Modul 1.1 Pendidikan guru penggerak (2022) menyatakan bahwa "Pendidikan diartikan sebagai tuntunan dalam hidup tumbuhnya anak-anak" (hal 10). Tuntuan yang didapatkan oleh siswa secara umum bersumber dari guru mereka di kelas dan lebih luas mereka memperoleh tuntuan dari bagian-bagian pelaksana pendidikan di satuan pendidikan. Contohnya adalah dari bagian kurikulum terkait dengan tuntunan yang mengacu konten kurikulum, disamping itu kesiswaan akan juga memberikan tuntunan pengembangan diri mereka secara sosial emosional untuk scope yang lebih luas, mengkolaborasikan mereka dalam keluarga satuan pendidikan dengan kegiatan-kegiatan yang dirancang untuk memaksimalkan potensi dan minat mereka di luar konten kurikulum. Untuk menunjang tujuan menuntun dalam konsep pendidikan sesuai dengan falsafah pendidikan Ki Hadjar Dewantara, maka dari semua stake holder disatuan pendidikan akan mengambil keputusan-keputusan sesuai dengan bidang-bidang tugas pada satuan pendidikan. Salah satunya pengambilan keputusan oleh seorang kepala satuan pendidikan. 
"Beban dan amanah kepemimpinan adalah mengimbangi semua prioritas yang terpenting. Tugas saya dalam pendidikan adalah melakukan yang terbaik. Apa yang diinginkan kadang-kadang belum tentu itu yang terbaik. Dan untuk membuat perubahan, apalagi perubahan yang transformational, pasti ada kritik. Sebelum mengambil keputusan, tanyakan, apakah yang kita lakukan berdampak pada peningkatan pembelajaran murid? " (Nadiem Makarim, 2020 dalam Modul 3.1 Pendidikan Guru Penggerak 2022)"
 Apa sebenarnya pembuatan keputusan (decision making). Pembuatan keputusan sesuai dengan Wikipedia (Last Edited 2022) menyatakan bahwa "Ipsychologydecision-making (also spelled decision making and decision making) is regarded as the cognitive process resulting in the selection of a belief or a course of action among several possible alternative options."https://en.wikipedia.org/wiki/Decision-making. Pembuatan keputusan adalah sebuh proses kognitif oleh satu orang atau lebih. 
        Dalam dunia pendidikan dan sesuai dengan semangat dari Guru Penggerak, bahwa keputusan itu harus memenuhi 3 unsur yaitu berpihak kepada murid, nilai-nilai kebajikan, dan bertanggung jawab. 
Modul 3.1 Pendidikan Guru Penggerak 2022


  • Bagaimana filosofi Ki Hajar Dewantara dengan Pratap Triloka memiliki kaitan dengan penerapan pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin?
Sesuai dengan semangat dari pendidikan yang merdeka dan falsafah pendidikan dari KHD seperti di modul 1.1 bahwa setiap nafas, setiap niat, setiap kegiatan dalam satuan pendidikan (sekolah) segalanya harus mengarah kepada keyakinan untuk menuntun murid untuk memaksimalkan potensi mereka untuk mencapapi keselamatan dan kebahagian dengan mendasarkan pada nilai-nilai kebajikan dan bertanggung jawab. Iwan Syahril Dirjen GTK Kemendikbudristek, menyatakan dalam refleksinya atas Asas Konvergensi Ki Hadjar Dewantara di modul 1.2 menyatatakan : "Perubahan yang kita lakukan di pendidikan harus menuju pada suatu titik yang memanusiakan manusia dan memperkuat nilai kemanusiaan kita." (hal 8). Pengambilan keputusan oleh pemimpin sekolah juga akan memperkuat nilai kemanusian pemimpin sekolah dengan mendasarkan keputusan pada nilai-nilai kebajikan. William Glasser (1998) di modul yang sama  menyatakan "dalam “teori pilihan”, bahwa perilaku seorang manusia adalah buah dari pilihan yang dibuat oleh manusia itu sendiri" (hal 21) 
 Pendidikan adalah proses untuk menuju kepada perbaikan dari kondisi sebelumnya. Pendidikan itu mencakup pendidikan yang mengarah kepada kognisi dan juga pendidikan juga mengarah kepada peningkatann kemampuan keterampilan yang berhubungan dengan peningkatan kemampuan jasmani dan juga pendidikan yang mengarah kepada keduanya. Ki Hajar Dewantara dalam Falsafah Pendidikan  dalam Modul 1.1 Pendidikan guru penggerak (2022) menyatakan bahwa "Pendidikan diartikan sebagai tuntunan dalam hidup tumbuhnya anak-anak" (hal 10). Tuntuan yang didapatkan oleh siswa secara umum bersumber dari guru mereka di kelas dan lebih luas mereka memperoleh tuntuan dari bagian-bagian pelaksana pendidikan di satuan pendidikan. Contohnya adalah dari bagian kurikulum terkait dengan tuntunan yang mengacu konten kurikulum, disamping itu kesiswaan akan juga memberikan tuntunan pengembangan diri mereka secara sosial emosional untuk scope yang lebih luas, mengkolaborasikan mereka dalam satu keluarga satuan pendidikan dengan kegiatan-kegiatan yang dirancang untuk memaksimalkan potensi dan minat mereka di luar konten kurikulum. Untuk menunjang tujuan menuntun dalam konsep pendidikan sesuai dengan falsafah pendidikan Ki Hadjar Dewantara, maka dari semua stake holder disatuan pendidikan akan mengambil keputusan-keputusan sesuai dengan bidang-bidang tugas pada satuan pendidikan. Salah satunya pengambilan keputusan oleh seorang kepala satuan pendidikan. 

Bagaimana nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita, berpengaruh kepada prinsip-prinsip yang kita ambil dalam pengambilan suatu keputusan?
       Pengambilan keputusan oleh seorang pemimpin sangat di pengaruhi oleh nilai-nilai yang tertanam dalam diri dari seorang pemimpin. Nilai-nilai kebajikan yang dimiliki oleh pemimpin satuan pendidikan memberikan warna yang kepada keputusan yang diambil oleh seorang pempimpin satuan pendidikan.
Di modul 3.1 pendidikan guru penggerak :  "........ setiap pengambilan keputusan akan merefleksikan integritas sekolah tersebut, nilai-nilai apa yang dijunjung tinggi oleh sekolah tersebut, dan keputusan-keputusan yang diambil kelak akan menjadi rujukan atau teladan bagi seluruh warga  sekolah dan lingkungan sekitarnya..." (hal 5). Setiap keputusan yang telah diambil adalah bagian dari pertimbangan dan patokan untuk keputusan-keputusan berikutnya. Jadi keputusan juga adalah representasi dari nilai dan peran dari satuan pendidikan.  Dalam pendidika guru penggerak di modul 1.2 bahwa nilai yang dijunjung dan harus dimiliki oleh baik pendidik dan murid adalah nilai yang terkandung dalam dimensi profil pelajar pancasila. Nilai ini melandasi bagaiman seorang pemimpin satuan pendidikan mempertimbangkan keputusan yang akan di ambil melalui telaah yang membenamkan nilai ini dalam proses berfikir di pengambilan keputusan. 

Bagaimana materi pengambilan keputusan berkaitan dengan kegiatan ‘coaching’ (bimbingan) yang diberikan pendamping atau fasilitator dalam perjalanan proses pembelajaran kita, terutama dalam pengujian pengambilan keputusan yang telah kita ambilApakah pengambilan keputusan tersebut telah efektif, masihkah ada pertanyaan-pertanyaan dalam diri kita atas pengambilan keputusan tersebutHal-hal ini tentunya bisa dibantu oleh sesi ‘coaching’ yang telah dibahas pada sebelumnya.
        Proses pengambilan keputusan dari seorang kepala sekolah secara tidak langsung harusnya mengimplementasikan model diskusi dengan landasan coaching seperti di bahas di modul 2.3. Seorang pemimpin dengan semua kewenangan yang dia punya tidak semata pengambilan keputusan oleh individu, akan tetapi untuk kasus-kasus tertentu yang sesuai dengan persepsi dari seoarang pemimpin satuan pendidikan bisa dan harusnya melibatkan pendidik dan atau tenaga pendidik untuk kasus tertentu melibatkan murid dan juga komite sekolah disatuan pendidikan. Ini dilakukan untuk memahamankan kepada semua pihak (stake holder) bahwa pendidikan adalah milik semua, dan kemajuan bersama akan dicapai dengan kolaborasi. Coaching yang landasan utamanya adalah kolaborasi bisa di lakukan sebagai bentuk kolaborasi menuju solusi. Coaching akan membantu seoarang pemimpin untuk memberikan kesempatan semua stake holder untuk menuangkan segala ide dengan mempertimbangkan baik buruk, implikasi (jangka pendek-jangka panjang) dll sesuai dengan 3 prinsip pengambilan keputusan, 4 paradigma dan 9 unsur pengujian sebuah keputusan). Dari coaching maka keberpihakan kepada institusi dan murid akan terjaga sehingga representasi keberpihakan itu bisa dijaga. 

Bagaimana kemampuan guru dalam mengelola dan menyadari aspek sosial emosionalnya akan berpengaruh terhadap pengambilan suatu keputusan khususnya masalah dilema etika?
        Memutuskan sesuatu seringkali juga dipengaruhi oleh kondisi sosial emosional dari seorang pemimpin. Pengambilan keputusan adalah proses kognisi jadi ketika kondisi sosial emosional tidak mendukung maka kualitas dari keputusan yang diambil juga mungkin tidak sesuai dengan harapan berdasarkan pertimbangan sesuai dengan bahasa di modul 3.1. Contoh pengambilan keputusan dalam keadaan emosi maka keputusan yang ditetapkan kemungkinan besar menjadi tidak sejalan dengan solusi yang dibutuhkan. 

Bagaimana pembahasan studi kasus yang fokus pada masalah moral atau etika kembali kepada nilai-nilai yang dianut seorang pendidik?
         Masalah yang mengandung dilema etika harus dilihat dengan jernih sehingga solusi yang dihasilkan tidak merugikan. Ketika pengambil keputusan (kepala sekolah) mengalami dilema etika dan kemudian dia menetapkan keputusna disanalah kelihatan nilai-nilai yang dianut oleh seorang kepala sekolah 

Bagaimana pengambilan keputusan yang tepat, tentunya berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman.
        Keputusan yang tepat sesuai situasi dan kondisi untuk mendukung unsur keberpihakan kepada murid serta berdasarkan akan nilai-nilai kebajikan serta diikuti dengan tanggung jawab akan memberikan dampak yang positif dan nyaman bagi semuanya. Seorang kepala satuan pendidikan yang setiap hari harus membuat keputusan harus mendasarkan keputusan kepada aturan dan kesepakatan serta dengan mempertimbangkan segala hal terkait dengan teknik pengambilan keputusan dan hal lainnya dimodul 3.1 maka bisa di anggap bahwa keputusan yang di ambil adalah berkwalitas. 

Apakah tantangan-tantangan di lingkungan Anda untuk dapat menjalankan pengambilan keputusan terhadap kasus-kasus dilema etika ini? Adakah kaitannya dengan perubahan paradigma di lingkungan Anda?
        Di sekolah saya, pengambilan keputusan untuk hal-hal yang mengandung dilema sesuai dengan yang dipersepsikan oleh kepala sekolah akan selalu melibatkan minimal staf pimpinan untuk mengolah kasus. Dalam pengolahan kasus ini kepala satuan pendidikan melempar kasus itu ke forum diskusi, dari sana maka staf pimpina memperoleh masukan. Dalam eksekusi dari keputusan memang beberapa kali terkendala akan konsep dasar nilai yang dipegang dari teman-teman di guru.Ketika konsep dasar nilai yang dipegang oleh teman guru berbeda dengan konsep dasar keputusan maka terjadi silang persepsi dan berujung kepada eksekusi keputusan yang terhambat. 

Apakah pengaruh pengambilan keputusan yang kita ambil ini dengan pengajaran yang memerdekakan murid-murid kita? Bagaimana kita memutuskan pembelajaran yang tepat untuk potensi murid kita yang berbeda-beda? 
Pengambilan keputusan oleh kita sebagai pemimpin pembelajaran akan memiliki pengaruh yang signifikan kepada siswa. Keputusan kita dalam mengambil posisi sebagai apa, keputusan untuk masalah-masalah siswa baik akademik dan non akademik. Kita seabagai pemimpin pembelajaran dengan segala dasar pengetahuan kita profil peserta didik akan memutuskan konten terbaik, proses yang cocok dan produk yang sesuai bagi siswa. Dalam modul 2.1 tentang pembelajaran yang memenuhi kebutuhan siswa dituntut untuk selalu befikir akan kebutuhan siswa. Kita dituntut untuk berbuat memenhuik kebutuhan anak masa kini dan mempersiakan mereka menyonsong masa depan. 

Bagaimana seorang pemimpin pembelajaran dalam mengambil keputusan dapat mempengaruhi kehidupan atau masa depan murid-muridnya? 

Ketika keputusan yang diambil dengan mendasarkan pada kebutuhan murid dan memang kemudian disertai dengan memegang prisin 3 prinsip, 4 paradigma dan 9 pengujian keputusan maka itu akan memberikan jalan kepada pemimpin pembelajaran untuk membantu murid menyongsong masa depanya. Contoh adalah kegiatan pengembangan diri yang berbasiskan kepada analisis bakat dan minat serta berlandaskan persiapan siswa di masa depan. 

Apakah kesimpulan akhir  yang dapat Anda tarik dari pembelajaran modul materi ini dan keterkaitannya dengan modul-modul sebelumnya?

Pada prinsipnya adalah keputusan adalah hasil dari sebuah proses kognisi. Mungkin beberapa kasus pengambilan keputusan dilakukan secara individual akan tetapi mungkin ada beberapa kasus juga melibatkan lebih dari satu orang yang biasanya orang yang diajak adalah memiliki keterkaitan langsung dengan materi dan atau instusi. 

Sejauh mana pemahaman Anda tentang konsep-konsep yang telah Anda pelajari di modul ini, yaitu: dilema etika dan bujukan moral, 4 paradigma pengambilan keputusan, 3 prinsip pengambilan keputusan, dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan. Adakah hal-hal yang menurut Anda di luar dugaan?

Menjadi tahu akan dilema etika dan bujukan moral, paradigma pengambilan keputusan dan 9 langkan pengambilan dan uji keputusan akan membawa kita kepada kebijaksananaan dalam menghasilkan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran. Pengambilan keputusan memang tidak semata dari proses kognisi dengan melandaskan pada 3 hal diatas, akan tetapi keputusan juga bisa saja dipengaruhi oleh kekuasan yang tidak kelihatan. Baik dari internal dan eksternal. Memang keputusan yang diambil agar tidak merugikan maka mungkin seorang pemimpin akan mengambil langkah-langkah pengamanan meminimalisir efek kepada institusi dan murid. 

Sebelum mempelajari modul ini, pernahkah Anda menerapkan pengambilan keputusan sebagai pemimpin dalam situasi moral dilema? Bilamana pernah, apa bedanya dengan apa yang Anda pelajari di modul ini?

Pernah, dengan mempelajari modul 3.1 menambah pemahaman posisi saya dalam mengambil keputusan, melihat dari luar diri saya ketika mengambil keputusan dan mencoba membandingkn proses yang saya lalui pada saat itu ketika mengambil keputusan dengan hal yang saya pelajari sekarang.

Bagaimana dampak mempelajari konsep  ini buat Anda, perubahan  apa yang terjadi pada cara Anda dalam mengambil keputusan sebelum dan sesudah mengikuti pembelajaran modul ini?

Sangat positif. Perubahan yang terjadi adalah keputusan di ambil selalu mengedepankan nilai kebajikan universal dan keputusan yang harus berpihak kepada kebutuhan murid dengan tetap mendasarkan keputusan yang diambil tidak berkontraksi dengan 4 paradigma pengambilan keputusan, 3 prinsip pengambilan keputusan,dan melalui 9 langkah uji dan pengambilan keputusan 

Seberapa penting mempelajari topik modul ini bagi Anda sebagai seorang individu dan Anda sebagai seorang pemimpin?

Mempelajari modul sebagai individu dan sebagai sebagai pemimpin bagi saya sangat penting. Tahu jenis masalah apakah dilema etika dan atau  bujukan moral menjadi hal mendasar untuk pengambilan keputusan. Setelah mendasarkan keputusan kepada 4 paradigma dan 3 prinsip pengambilan keputusan menjadi keharusan yang tidak boleh diabaikan dan keputusan yang teruji sesuai dengan langkah uji dalam pengambilan keputusan.  


Komentar

  1. Menjadi pemimpin adalah bagian hidup...memimpin diri adalah pondasi untuk memimpin orang lain

    BalasHapus

Posting Komentar